Kamis, 16 Agustus 2012

LIFTING AND MOVING


A.    Pengertian
Pemindahan darurat / Emergency Move
Adalah Suatu cara pemindahan penderita ketika dalam keadaan yang membahayakan baik dari lingkungan maupun penderita itu sendiri dengan mengabaikan kondisi yang dialami penderita.

B.    Prinsip pengangkatan penderita
Ada banyak prinsip yang dapat dijadikan panduan dalam perawatan pra rumah sakit, namun aspek yang utama adalah “DO NOT FURTHER HARM” atau “JANGAN MEMBUAT CEDERA SEMAKIN PARAH” dicetuskan oleh Hypocrates dan dijadikan panduan mulai dari penyakit sampai ke ruang operasi (ruang perawatan) hingga pasien pulang.
Syarat utama dalam mengangkat penderita tentulah fisik yang prima, yang juga terlatih dan dijaga dengan baik. Jika anda melakukan pengangkatan dan pemindhan dengan tidak benar, maka ini dapat mengakibatkan cedera pada penolong. Apabila anda melakukan cara pengangkatan yang tidak benar ini setiap hari, mungkin akan timbul penyakit yang menetap. Penyakit yang umum adalah nyeri pinggang bagian bawah ( low back pain), dan ini dapat timbul pada usia yang lebih lanjut.
1.       Posisi tulang punggung lurus / tetap tegak
Bayangkan bahwa tubuh anda adalah sebuah menara, tentu saja dengan dasar yang lebih lebar daripada bagian atas. Semakin miring menara itu, semakin mudah runtuh. Karena itu berusahalah untuk senatiasa dalam posisi tegak, jangan membungkuk ataupun miring.
2.      Gunakan otot paha untuk mengangkat, bukan punggung
Untuk memindahkan sebuah benda yang berat, gunakan otot dari tungkai, pinggul dan bokong, serta ditambah dengan kontraksi otot dari perut karena beban tambahan pada otot-otot ini adalah lebih aman. Jadi saat mengangkat jangan dalak keadaan membungkuk. Punggun harus lurus.
3.      Gunakan Otot fleksor ( otot untuk menekuk, bukan otot untuk meluruskan )
Otot Fleksor lengan maupun tungkai lebih kuat daripada otot Ekstensor. Karena itu saat mengangkat dengan lengan, usahakan telapak tangan menghadap kearah depan.
4.      Jarak antara kedua lengan dan tungkai selebar bahu
Saat berdiri sebaiknya kedua kaki agak terpisah, selebar bahu. Apabila cara berdiri kedua kaki jaraknya terlalu lebar akan mengurangi tenaga, apabila terlalu rapat akan mengurangi stabilitas. Jarak kedua tangan dalam memegang saat mengangkat (misalnya saat mengangkat tandu ), adalah juga selebar bahu. Jarak kedua tangan yang terlalu rapat akan mengurangi stabilitas benda yang akan diangkat, jarak terlalu lebar akan mengurangi tenaga mengangkat.
5.      Dekatkan Beban dengan Badan
Usakan sedapat mungkin agar titik berat beban sedekat mungkin dengan tubuh anda. Cedera punggung mungkin terjadi ketika anda menggapai dengan jarak jaun untuk mengangkat sebuah benda.



A.    Jenis Pemindahan Darurat
ada kondisi-kondisi tertentu dimana penderita harus dipindah segera dari lokasi kejadian untuk menghindari bahaya selanjutnya. Dalam kondisi seperti ini penolong tidak lagi memperthatikan kondisi/masalah penderita, sepeti misalnya patah tulang, luka atau gangguan jalan nafas sekalipun. Kondisi-kondisi yang mengharuskan untuk segera memindahkan penderita adalah sebagai berikut :
§  Kebakaran atau ancaman dari kebakaran. Kebakaran akan dapat merupakan sebuah ancaman berat, bukan hanya pada pederita tetapi juga pada penolong.
§  Ledakan atau ancaman ledakan
§  Ketidakmampuan untuk melindungi penderita dari bahaya lain di tempat kejadian.
Contoh dari bahaya ini :
o   Bangunan yang tidak stabil
o   Mobil terguling, bensin tumpah
o   Adanya bahan berbahaya ( hazardous Material – Hazmat )
o   Orang sekitar yang berprilaku yang mengancam
o   Kondisi cuaca buruk
§  Terpaksa memindahkan satu penderita agar dapat mencapai penderita lain, misalnya dala kecelakaan bis.
§  Ketika perawatan gawat darurat tidak dapat diberikan karena lokasi atau posisi penderita. Misalnya pada seorang yang terkena henti jantung-nafas, RJP hanya dapat dilakukan pada posisi tidur diatas dasat yang keras.
Bahaya terbesar pada saat memindahkan penderita cedera ( trauma 0 dalam keadaan darurat adalah kemungkinan memburuknya suatu cedera tulang belakang. Pilihlah cara memindahkan penderita yang seaman mungkin, dengan tetap memperhatikan kesegarisan tulang belakang dengan kepala penderita.

Jenis-jenis Pemindahan darurat :
1.       Tarikan lengan dan bahu ( Shoulder drag )
Cara melakukan tarikan lengan adalah anda berdiri pada sisi kepala penderita. Kemudian masukan lengan anda dibawah ketiak penderita dan pegang lengan bawah penderita. Silangkan kedua lengan openderita didepan dada, lalu tariklah penderita ke belakang. Dalam melakukan tindakan ini seringkali menghadapi kesulitan karena kai penderita tersangkut, poleh karena itu pemindahan ini dilakukan hanya kalau terpaksa saja.



1.       Tarikan baju
Dalam melakukan penarikan baju sebelumnya kedua pergelangan tangan penderita diikat dengan pakaian atai kain kasa agar tidak  tersangkut saat dilakukan penarikan. Kemudian cengkeram baju dibagian bahu penderita kemudian lakukan penarikan keartah penolong. Dlam melakukan hal ini hati-hati agar penderita tidak tercekik. Penarikan baju ini sebaiknya dilakukan dengan baju menarik pada ketiak penderita., bukan pada bagian leher. Tarikan baju hanya dapat dilakukan pada baju yang agak kaku.

2.       Tarikan selimut
Bila penderita sudah tertidur diatas selimut  atau Mantelnya lipatlah bagian selimut yang berda di kepala penderita, lalu tariklah penderita kebelakang. Janganlupa untuk menyimpulselimut pada bagian kaki, agar penderita tidak tergeser ke bawah.

3.       Tarikan Pemadam kebakaran ( fire fighter’ carry)
Memindahkan dalam keadaan darurat lainya termasuk enggendong penderita di belakang punggung dengan satu penolong seperti membawa tas punggung ( ransel ), dengan menopang penderita dari sisinya sambil berjalan oleh satu penolong, membopong penderita oleh satu penolong seperti membawa anak kecil, dan dengan cara mengangkat lalu membopongnya seperti cara pemadam kebakaran. Dibawah ini gambar cara mengangkat seperti pemedam kebakaran




Selasa, 08 Mei 2012

Pertolongan Pertama Pada Dehidrasi


Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh.
Hal ini terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan
(misalnya minum). Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan
gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh.
Dehidarasi terjadi karena
§  kekurangan zat natrium
§  kekurangan air;
§  kekurangan natrium dan air.
Dehidrasi terbagi dalam tiga jenis berdasarkan penurunan berat badan, yaitu
Dehidrasi ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan),
dehidrasi sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat
badan), dan dehidrasi berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen
dari berat badan).
Selain mengganggu keseimbangan tubuh, pada tingkat yang sudah sangat
berat, dehidrasi bisa pula berujung pada penurunan kesadaran, koma, hingga
meninggal dunia, atau tidak. Dan Jangan coba-coba menurunkan berat badan
dengan cara dehidrasi karena anda akan menanggung resiko gangguan pada
ginjal anda.

JANGAN pernah menganggap remeh rasa haus. Jika dibiarkan dalam jangka waktu yang lama bisa mengundang dehidrasi. Lebih lanjut, dehidrasi bisa menimbulkan tubuh yang lemas. Sebaiknya, kenali tanda-tanda dehidrasi berikut ini:

1. Sakit kepala bisa menjadi salah satu tanda dehidrasi
Jangan biarkan keluhan ini dibiarkan begitu saja. Minumlah air putih yang banyak secara perlahan.

2. Anda patut waspada jika warna urine cenderung gelap
Gejala yang satu ini diakibatkan karena Anda kurang mengonsumsi air putih.

3. Lesu dan mengantuk adalah bisa jadi tanda Anda tidak minum cukup air
Ini cara tubuh melambat untuk menghemat air. Cobalah untuk mengonsumsi air dingin secara perlahan.

4. Kekurangan air juga dapat menyebabkan kulit yang kering
Jika Anda sudah menggunakan pelembab kulit. Namun tetap terasa kering, itu adalah tanda bahwa Anda kurang minum.

5. Dehidrasi juga bisa ditandai dengan detak jantung yang meningkat
Usahakan untuk mencukupi tubuh dengan konsumsi air minimal 2 liter per hari.


Tips Mengetahui Gejala & Cara Mengatasi Dehidrasi


Saat melakukan banyak aktivitas, tanpa kita sadari tubuh bisa kekurangan

 cairan (air) dan Elektrolit (larutan ber-ion) sehingga tubuh jadi lemas dan tidak

bertenaga. Jangan biarkan hal ini terjadi, karena dapat merusak organ tubuh

secara perlahan.

Badan kita membutuhkan kadar air yang lebih banyak pada saat kita ; berada

di daerah yang beriklim panas, berada di dataran tinggi (jauh dari permukaan

laut), melakukan aktivitas yang menguras keringat, melakukan penerbangan

panjang, terkena flu dan diare, dalam masa pengobatan tertentu.

Gejala dehidrasi yaitu rasa haus yang berlebihan, pusing, frekwensi buang air

kecil menurun dan urine berwarna kuning gelap serta mengeluarkan bau yang

menyengat, mulut dan Hidung terasa kering, merasa lelah dan lemah, mual,

dan jantung berdetak lebih kencang.

Cara mengatasi dehidrasi :

- Jaga kadar cairan dan elektrolit dalam tubuh ; Walau air penting untuk

mencegah dehidrasi, tapi air tidak mengandung elektrolit. Jadi, air putih saja

tidak cukup untuk mengatasi dehidrasi. Untuk menambah kadar elektrolit,

makan kaldu sup yang kaya akan sodium, minum jus buah serta makan buah-

buahan dan sayur-sayuran yang mengandung banyak air dan potassium. Selain

itu juga ditambah energy drink, seperti Pocari Sweat.

- Kalau sudah merasa haus, pusing, dan lemas, segera hindari tempat yang
panas dan berteduhlah.


- Sebelum melakukan aktivitas outdoor, minumlah banyak air terlebih dahulu

dan jangan sampai menunggu haus.

Sabtu, 05 Mei 2012

Pertolongan Pertama Pada Gigitan Ular Berbisa

 Ketika digigit ular, yang pertama kali harus dilakukan adalah memastikan jenis ularnya. Jika ada bekas taring, maka dipastikan yang mengigit adalah ular berbisa sehingga korbannya harus segera mendapat pertolongan pertama berikut ini. 

Selain ada bekas taring, ciri lain dari gigitan ular berbisa adalah munculnya rasa nyeri disertai perubahan warna pada lokasi gigitan dalam beberapa saat usai digigit. Dalam 10-15 menit, gejala lain yang menyertai adalah mual-muntah, pusing, gelisah dan kadang-kadang sesak napas. 

Pertolongan pertama untuk korban gigitan ular yang menunjukkan gejala-gejala tersebut seperti dikutip dari Net Doctor, Kamis (14/7/2011) adalah: 



1. Jangan panik 
Tidak semua gigitan ular mengandung bisa yang berbahaya, bahkan meski yang menggigit adalah spesies ular berbisa. Contohnya tidak semua gigitan Ular Derik mengeluarkan bisa, hanya 20-30 persen saja gigitan Ular Derik yang berbahaya. Begitu juga dengan Ular Karang hanya 50 persen saja gigitan yang mengeluarkan bisa. 

2. Kurangi gerak 
Setiap gerakan yang tidak perlu hanya akan menyebabkan bisa ular menyebar lebih luas melalui peredaran darah. Usahakan untuk tetap diam, sebisa mungkin gunakan alat transportasi dan jangan berjalan kaki untuk mencapai lokasi yang menyediakan pertolongan pertama. 

3. Cuci bekas gigitan 
Jika tersedia, gunakan sabun dan air matang untuk membersihkan luka sesegera mungkin. 

4. Cuci mata jika kena semburan bisa 
Beberapa spesies ular kobra yang hidup di Asia dan Afrika mampu menyemburkan bisa mematikan tanpa harus menggigit korbannya. Jika semburan ini mengenai mata atau lapisan mukosa tipis lainnya, segera cuci dengan air bersih. 

5. Ikat kuat-kuat daerah di sekitar luka (tidak dianjurkan untuk gigitan Ular Derik) 
Ikatan yang kuat di sekitar bekas gigitan dapat menghambat penyebaran racun hingga mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Namun untuk gigitan Ular Derik yang racun atau bisanya sangat kuat, risiko kerusakan jaringan pada lokasi gigitan justru akan meningkat ketika diikat. 

6. Bawa ke dokter secepat mungkin 
Serum antibisa ular bisa didapatkan di Puskesmas atau tempat praktik dokter terdekat. Jika dalam perjalanan korban muntah-muntah, tempatkan dalam posisis duduk atau berbaring untuk memastikan muntahannya tidak menyumbat saluran napas. Meski sebagian besar racun ular beraksi lambat, sebaiknya jangan ditunda karena beberapa orang punya alergi racun ular yang membuatnya makin rentan terhadap kemungkinan terburuk. 

7. Jangan suntikkan antiracun sendiri 
Injeksi antiracun memang dibutuhkan dengan segera, namun sebagiknya tetap dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan yang terampil. Adanya pengotor pada alat suntik misalnya, kadang malah dapat membahayakan pasien.





Minggu, 18 Maret 2012

FIRST AIDERS




Pada tanggal 22 Maret 2012 Sigma Emergency Bekerja Sama dengan Miracle Consultant menyelenggarakan pelatihan Basic Life Suport untuk karyawan PT. Chang Shin yang memproduksi sepatu NIKE di  Karawang

Pelatihan tersebut di ikuti oleh 20 Orang peserta dengan melibatkan Inspector, Engeneering, Staff HSE, Paramedis,  Security, Qulity Control, dan lain-lain.

Pelatihan tersebut merupakan bagian dari training Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang wajib diikuti oleh semua karyawan terutama Para Karyawan PT Chang shin, yang memproduksi Brand Ternama “ NIKE” yang menerapkan Lose Time Injury Adapun materi pelatihan lain adalah Integrated emergency system, CPR, Wound and Fracture and Imobilization, Transportation & Evacuation

Pelatihan CPR merupakan pelatihan untuk melatih pengetahuan dan keterampilan peserta didalam melakukan Resusitasi Jantung Paru pada keadaan kegawatdaruratan jantung dan kardiovaskuler, terutama pada penderita kritis yang mengalami henti napas dan henti jantung. Materi pelatihan CPR meliputi :
·                     Integrated Emergency Response System
·                     DR ABC Concept
·                     Choking Management : Foreign Body Acute Obstruction
·                     Cardiopulmonary Resuscitation (CPR)
·                     Recovery Position
Seteleh mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu melakukan prosedur CPR yang meliputi Pengenalan bahaya dan proteksi diri, menilai kesadaran penderita, meminta bantuan, membebaskan jalan napas, menilai pernapasan, memberikan napas buatan, menilai sirkulasi, memberikan kompresi dada, dan memposisikan penderita pada posisi pemulihan.         (Sigma 2012)


Jumat, 16 Maret 2012

Simple Triage And Rapid Treatment " START"



Traige adalah penilaian, pemilahan dan pengelompokan penderita yang akan mendapatkan penanganan medis evakuasi pada kondisi kejadian masal atau bencana.

Pada kejadian bencana biasanya banyak korban, sedangkan petugas dan peralatan pertolongan serba terbatas sehingga perlu melakukan pemilahan untuk menentukan prioritas.

Salah satu metoda triage pada bencana adalah START singkatan dari Simple Triage And Rapid Treatment. Metode START sangat mudah dilakukan meski oleh orang awam sekalipun. Hal ini memang karena triage seyogyanya dilakukan oleh siapa saja yang pertama kali kelokasi kejadian.

Hasil dari proses traiage adalah pengelompokan pederita sesuai berat ringannya masalah pada penderita tersebut. Agar pengelompokannya mudah dikenali oleh petugas lain maka dalam triage penting sekali untuk melakukan labeling dengan warna yang sudah diakui secara international yaitu Merah, Kuning, Hijau, dan Hitam.

  1. MERAH --> High Priority --> memerlukan penanganan segera
  2. KUNING --> Intermediate Priority --> apabila tidak segera diberi pertolongan akan memburuk
  3. HIJAU --> Low Priority --> Penanganan penderita dapat ditunda
  4. HITAM --> Lowest Priority --> penderita yang tidak bisa dipertahankan lagi atau sudah meninggal

Prosedur START :


Langkah 0
Panggil korban yang masih bisa berjalan untuk mendekat kearah petugas yang berada dilokasi aman (collecting area). Korban yang bisa berjalan mendekat diberikan label HIJAU

Langkah 1 (Airway + Breathing)
  • Cek pernapasan, Apabila tidak bernapas buka jalan napasnya, jika tetap tidak bernapas berikan label HITAM.
  • Pernapasan > 30 kali / menit atau <>
  • Pernapasan 10-30 kali permenit kelangkah berikutnya

Langkah 2 (Circulation)
  • Cek Capilary test (Tekan Kuku tangan penderita) kemudian lepas, apabila kembali merah lebih dari 2 detik (> 2 detik) berikan label MERAH.
  • Apabila <>
  • Apabila pencahayaan kurang untuk capilary test, lakukan cek nadi radialis, apabila tidak teraba atau lemah berikan label MERAH.
  • Apabila nadi radialis teraba kelangkah berikut.

Langkah 3 (Mental Status)
  • Berikan perintah sederhana kepada penderita, Apabila mengikuti berikan label KUNING.
  • Apabila tidak dapat mengikuti perintah berikan label MERAH.

Setelah melakukan langkah-langkah triage dan memberikan label/tanda pada penderita, segera untuk menuju kependerita lain yang belum dilakukan triage. Triage harus selalu dievaluasi untuk menghindari kemungkinan terjadi kesalahan waktu triage. Atau bisa juga perubahan terjadi ketika kondisi penderita membaik atau memburuk.
========================================================
SIGMA EMERGENCYIn Health & Safety Training 4 Life


Tahukah anda apakah triage ???
Triage adalah cara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber daya yang tersedia. Terapi berdasarkan pda prioritas ABC (Airway, Braething, Circulation).

Triage juga berlaku untuk pemilahan pendeita di lapangan atau pada keadaan bencana. Triage juga berguna untuk menentukan rumah sakit rujukan mana yang sesuai dengan kondisi penderita.

Ada dua jenis keadaan yang akan mempengaruhi proses triage :

1. Multiple Casualties


Musibah masal dengan jumlah penderita dan beratnya perlukaan tidak melampaui kemampuan petugas dan peralatan. Dalam keadaan ini penderita dengan masalah yang mengancam jiwa dan multiple trauma akan dilayani terlebih dahulu. 

2. Mass Casualties

M
usibah masal dengan jumlah penderita dan beratnya luka melampaui kemampuan petugas dan peralatan. Dalam keadaan ini yang akan dilayani terlebih dahulu adalah penderita dengan kemungkinan hidup (survival) terbesar, serta membutuhkan waktu, perlengkapan dan tenaga paling sedikit.

Baca juga START : Simple Triage And Rapid Treatment



Rabu, 14 Maret 2012

CPR...CPR....CPR...... KOCAKKKKKK......


BALUT & BIDAI

A.Jenis Pembalut/Perban
1.Perban segi tiga (Mitella)
2.Perban pita (Zwachtel)
3.Plester
B.Tujuan Membalut/Perban
1.Menutupi bagian yang cedera dari udara, cahaya, debu dan kuman.
2.Menopang yang cedera
3.Menahan dalam suatu sikap tertentu
4.Menekan
5.Menarik

C.Bahan Untuk Perban
Bahan yang diperlukan untuk membalut, antara lain salep, bubuk luka, plester, bahan penyerap (kasa atau kapas), kertas tissue, bahan tidak mudah menyerap (kertas khusus, kain taf, sutera), bahan elastis (spons, kapas).
D.Jenis – jenis Pembalutan
1.Perban segi tiga (Mitella)
Perban segi tiga dibuat dari kain belacu atau kain muslin, perbannya dibuat segitiga sama kaki yang puncaknya bersudut 900 . Panjang dasar segitiga kira-kira 125 cm dan kedua kakinya masing-masing 90 cm. Buatlah terlebih dahulu kain segi empat dengan sisi 90 cm lalu lipat dua atau digunting pada garis diagnonalnya.
2.Balut segi tiga untuk kepala
Untuk luka kepala dapat dipakai perban segi tiga. Dasar segi tiga dilipat selebar 5 cm 2 kali. Letakkan bagian tengah lipatan itu diatas dahi. Bagian yang mengandung lipatan diletakkan sebelah luar. Ujung puncak segi tiga ditarik ke belakang kepala sehingga puncak kepala tertutup kain segi tiga. Kedua ujung lipatan tadi dililitkan ke belakang kepala lalu kembali ke dahi dan dibuat simpul di dahi.
3.Balut segi tiga untuk bahu
Guntingan ujung puncak segitiga tegak lurus pada dasar sepanjang 25 cm. Kedua ujung yang baru dibuat dililitkan secara longgar ke leher, lalu diikat ke belakang. Dasar segi tiga ditarik sehingga bagian bahu yang cedera tertutup. Lalu kedua ujung dasar segi tiga dililitkan ke lengan dan diikat.
4.Balut segi tiga untuk dada
Gunting puncak segitiga tegak lurus pada dasarnya sepanjang 25 cm. Ikatlah kedua ujung puncak itu secara longgar dibelakang leher, sehingga dasar segi tiga berada di depan dada. Lipatlah dasar segi tiga beberapa kali sesuai dengan kebutuhan lalu ujung dasar tadi diikat di punggung.
5.Balut segi tiga untuk pantat
Gunting puncak segi tiga tegak lurus pada dasar sepanjang 25 cm. Ikatlah kedua ujung puncak itu melingkari paha yang cedera. Buatlah beberapa lipatan pada dasar segi tiga, lalu kedua ujungnya diikatkan melingkar di pinggang.
6.Balut segi tiga untuk tangan
Bila seluruh telapak tangan akan dibalut, dapat dipakai perban segi tiga. Letakkan dasar segitiga pada telapak tangan. Ujung puncak segitiga di lilitkan ke punggung tangan, sehingga seluruh jari – jari tertutup, lalu kedua ujung dasar segi tiga dililitkan beberapa kali pada pergelangan tangan dan diikat. Bila segi tiga terlalu besar, buatlah beberapa lipatan pada dasar segi tiga.
E.Cara Membuka Pembalut/Perban
Buka simpul perban, bila sulit, gunting saja. Tangan kanan memegang ujung perban. Bukalah gulungan dengan memindahkan perban itu ke kiri, lalu kembali lagi ke kanan dan ke kiri lagi. Begitu seterusnya sampai seluruh pembalut terlepas. Untuk membuka perban kotor pergunakan 2 buah pinset. Bila perban itu telah kotor atau tidak ingin dipakai lagi, lebih baik digunting dengan memakai gunting perban. Dengan demikian, perban lebih cepat terlepas.
F.Jenis – Jenis Perban Menurut Bahannya
1.Perban kasa :D ibuat dari benang yang dianyam jarang – jarang, sering dipakai untuk membalut pada anggota badan.
2.Perban planel :Kain berbulu dipakai sebagai perban penekan pada pertolongan pertama.
3.Perban kambrik:Terbuat dari benang kasar pemakaian-nya sama dengan kasa.
4.Perban trikot :Sering dipakai untuk membuat perban ransel.
5.Perban katun dan linen:Dipakai dalam keadaan darurat, sebagai pembalut, penekan dan penarik
6.Perban elastis:Dipakai untuk balutan penekan pada keseleo atau salah urat (luksasio dan sprain) atau untuk membalut anggota gerak yang telah diamputasi.
7.Perban cepat:Dipakai untuk pertolongan pertama pada kecelakaan, dalam peperangan pada luka tembak atau patah terbuka.
8.Perban gips
G.Cara – cara Membalut
1.Cara – cara khusus membalut perban kepala
a.Verban kepala fasela galenika
Cara memakainya adalah sebagai berikut :
Letakkan kain persegi itu diatas kepala dengan kedua ujung mengarah ke masing – masing telinga.
Ikatkanlah dengan peniti atau plester pita tengah dibawah dagu. Pita depan diikat ke belakang kepala, sedangkan pita belakang diikat ke dahi.
b.Perban pita untuk membalut kepala dengan cara mempersatukan (Fascia Union).
Perban yang dipakai dapat yang berkepala satu maupun yang berkepala dua. Dipakai untuk luka disamping kepala. Cara fascia union ini sangat merosot sehingga sekarang tidak dipakai lagi.
c.Perban kepala cara Fascia sagitalis
Perban kepala cara sagitalis memakai pembalut berkepala tiga atau disebut juga perban T. Perban ini dipakai untuk luka di kepala.
Mula – mula perban berkepala dua diletakkan pada dahi, lalu kedua ujung dililitkan ke belakang kepala. Ujung tengah perban juga diletakkan ke belakang. Setelah dihimpit dengan kedua ujung perban yang datang dari samping, kembalikan lagi ujung perban tengah ke depan. Demikian pula kedua ujung samping dililitkan kembali ke depan kepala sehingga mengimpit lagi ujung perban tengah. Demikianlah seterusnya sampai semua perban terpakai.
d.Perban kepala dengan cara pita silang (Fascia nodosa)
Dengan memakai perban berkepala dua. Bila kedua ujung perban telah sampai diatas salah satu telinga silangkanlah kedua perban itu lalu masing – masing ujung membalut dahi dan belakang kepala. Setelah kedua ujung sampai diatas telinga yang lain, dibuat pula silang, diatur menuju ke bawah dagu, bertemu kembali di atas telinga pertama, dan seterusnya.
e.Perban penutup kepala (Fascia kapitalis atau mitra hippokrates)
Sebaiknya dilakukan oleh dua orang. Dipakai sebagai perban penutup atau pelindung luka kepala yang luas.
Satu orang berulang – ulang melingkarkan perban. Mulai dari dahi terus ke belakang sambil menghimpit perban kedua yang diletakkan berulang – ulang di atas kepala oleh orang kedua dari arah depan kepala ke belakang kepala. Balutan digeser sedikit demi sedikit ke kiri dan ke kanan.
2.Cara – cara membalut mata
a.Membalut satu mata (Monokulus)
Dipakai untuk menutupi atau menekan luka pada mata dan sekitarnya. Buatlah lingkaran perban di sekitar dahi dan belakang kepala beberapa kali. Lalu secara berangsur-angsur dililitkan sedikit demi sedikit ke mata yang cedera dan belakang kepala, sehingga seluruh mata tertutup.
Usahakan agar lapisan perban terbawah tidak menutup mata yang sehat
b.Membalut kedua mata (Binoukulus)
Cara ini dipakai untuk menutupi atau menekan mata, misalnya pada operasi katarak. Caranya : Mulailah seperti membalut satu mata. Setelah melingkarkan lapisan perban terakhir disekitar depan dan belakang kepala, teruskan dengan melingkari mata yang lain dengan cara yang sama, tetapi dengan arah sebaliknya. Ujung perban terakhir dilekatkan dengan sepotong plester.
3.Perban telinga cara koroner
Balutlah perban melingkar dahi dan belakang kepala beberapa kali, lalu berangsur – angsur diarahkan ke arah telinga yang sakit. Lakukan balutan perban itu terus sampai seluruh telinga tertutup. Usahakan lapisan perban terakhir berada di lingkaran dahi lalu dilekatkan dengan plester.
4.Perban pada anggota gerak badan berbentuk bulat panjang
Untuk melakukan perban pada leher, lengan atas dan paha dapat dibalut dengan 2 cara yaitu :
a.Membalut biasa (Dolobra currens)
b.Membalut pucuk rebung (Dolobra reversa)
Setiap kali membalut harus diperhatikan agar :
a.Perban saling menutupi lapis demi lapis.
b.Gulungan perban tidak boleh bergeser, walaupun saling bekerja.
c.Lilitkan perban harus cukup kencang.
5.Membalut persendian
Untuk membalut persendian dipakai :
a.Cara balut silang (Spica)
b.Cara balut penyu (testudo)
Ad. 1 Cara balut silang pergelangan tangan
Mulailah dengan melilitkan perban beberapa kali pada pergelangan tangan, lalu arahkan perban ke distal melilit punggung tangan dan telapak tangan. Masukkan lilitan diantara ibu jari dan jari telunjuk, miring pada punggung tangan menuju pergelangan tangan. Lilitkan satu kali lalu ulangi pekerjaan itu sambil menggeser perban sedikit demi sedikit sehingga seluruh pergelangan tangan terbalut.
Ad. 2 Membalut sendi siku cara penyu keluar (Testudo cubiti Reversa)
1.)Bengkokkan sedikit siku yang akan dibalut.
2.)Balutkan perban beberapa kali pada pertengahan siku.
3.)Arahkan lilitan perban bergantian ke proksimal dan ke distal.
4.)Lanjutkan lilitan perban ke lengan atas dan ke lengan bawah berulang – ulang sampai seluruh sendi siku terbalut.
5.)Ujung lilitan perban terakhir dilekatkan dengan plester.
6.Cara-cara Membalut kaki (Membalut seluruh kaki)
a.Misalkan kaki kiri ingin dibalut, mulailah perban dari bagian punggung kaki menuju ke ujung jari – jari lalu ke telapak kaki. Peganglah dengan tangan kiri ujung perban yang ada di punggung. Dengan tangan kanan lilitkan perban untuk menutup jari – jari kaki dengan cara tadi. Bergantian ke lateral dan medial. Geserlah sedikit demi sedikit ke arah tengah jari – jari sehingga seluruh jari terbalut. Di telapak kaki, arah balutan melintang, sedangkan telapak kaki arahnya miring.
b.Kemudian lilitkan perban melintang punggung dan telapak kaki sehingga ujung – ujung perban tadi terhimpit. Buatlah lilitan perban sebanyak 3 lilitan sambil menggeser ke arah pergelangan kaki.
c.Sewaktu lilitan ke empat berada di punggung kaki, perban diarahkan di telapak kaki sekitar tumit. Kemudian dililitkan ke pergelangan kaki, terus ke punggung kaki lagi.
d.Ulangi lagi balutan seperti tadi beberapa kali, sampai seluruh kaki terbalut. Akhiri balutan pada pergelangan kaki.
H.Gips dan Pemasangannya.
Cara membuat gips spalk (Bidai gips)
Bila terjadi patah proximal, maka panjang gips spalk adalah dari pangkal jari sampai ke lengan atas kira – kira 2 jari dibawah lipatan ketiak.
Lengan harus ditekuk sampai 90 0 dengan telapak tangan agak diputar ke dalam (supinasi). Pergelangan tangan lurus dengan tulang lengan bawah.
Pada patah tulang tungkai bawah (Fraktur tibia dan fibula), gips spalk dan sirkuler harus dipasang mulai ujung jari sampai 2 – 3 cm dibawah sendi paha. Posisi kaki dan tungkai bawah dibuat sudut 900 sedangkan lutut agak ditekuk membuat sudut kira – kira 1700.
Pada patah tulang kaki dan tumit gips sirkuler dipasang mulai dari ujung jari sampai kira – kira 2 – 3 cm dibawah sendi lutut saja. Setelah diketahui panjangnya ukuran spalk, bukalah gulungan gips perban dan letakkan dimeja sepanjang ukuran yang diinginkan. Untuk anggota gerak atas, cukup dibuat 6 lapis, sedangkan untuk tungkai dibuat 8 – 10 lapis.
Setelah lapisan gips spalk selesai dibuat, basahkan lalu letakkan ke anggota gerak yang akan di gips. Sebelum di gips anggota gerak harus di reposisi dengan kain trikot atau kapas berlemak.
Setelah dipasang gips spalk, dibalut dengan perban kasa.
Gips sirkuler
Bila melakukan balutan secara gips sirkuler, setelah tulang yang patah direposisi, dilapisi dengan kapas berlemaj dan dipasang gips spalk langsung dibalut dengan perban gips dengan cara balut biasa. Gips yang telah dibalut itu diratakan dengan kedua telapak tangan agar perban gips melekat betul. Jari – jari tangan dan kaki bila tidak patah jangan di gips.
Bila dilakukan reposisi sanguinea, maka luka operasi ditutup dahulu dengan kasa steril yang telah dioles dengan antiseptik. Kemudian dipasang gips sirkuler. Luka operasi dibiarkan tertutup dengan gips, jahitan baru dilepas setelah gips dibuka.
Biasanya gips baru dibuka setelah terjadi kalus, untuk lengan memerlukan waktu 4 – 6 minggu, sedangkan untuk tungkai memerlukan 6 – 10 minggu. Makin muda usia seseorang, makin cepat sembuhnya.